Masyarakat Tanpa Riba

Banyak kekayaan dunia yang kadang membuat manusia menjadi lupa. Lupa bahwa hidup itu hanya sementara dan akhirat lah tujuannya.

Apa dengan memenuhi kebutuhan dengan uang maka hidup terjamin bahagia?

Tentu kita semua tahu jawabannya pasti tidak. Walaupun tahu riba adalah hal yang harus dijauhi tetap saja banyak yang mendekati. Memang kebutuhan sekarang ini harganya semakin melangit, tidak hanya sembako, biaya pendidikan pun seperti tidak mau kalah untuk meninggikan biayanya. Kalau sudah kepepet mau bagaimana lagi kalau berhutang menjadi jalan keluarnya.

source: alamislam.com

Namun, jangan jadikan berhutang untuk gaya hidup.

Berhutanglah dengan cara yang benar. Sesuaikan dengan kemampuan membayar. Karena sesuatu berlebihan tidak pernah berakhir baik. Jangan berhutang di rentenir. Selalu berupaya untuk menjauhi riba dan mensyukuri apa yang ada. Seperti Bapak pensiun PNS ini yang hanya menerima gaji pensiun

Banyak pembisnis ketika berhutang untuk bisnisnya malah jadi bangkrut. Tapi, ketika berniat melepaskan diri dari hutang Alloh menunjukkan kesuksesan yang selama ini dicarinya. Buah kesabaran dan kerja keras itu selalu menghasilkan berkah yang melimpah asal cara mendapatkannya benar ya?

Seperti video di link ini yang menceritakan seorang Bapak pensiunan PNS yang memiliki gaji pensiun sekitar 3,9juta namun per bulannya beliau hanya menerima 395.000 saja. Apakah rela jika ayah dan ibu ataupun sodara kita kelak menerima hal yang sama? Tidak akan pernah tenang hidup dengan berhutang. Apalagi tutup lobang gali lobang.

Semoga kita terhindar dari hutang agar hidup selalu tenang.

Penulis: Maduretno

MaduretnoLahir di Tulungagung, Jawa Timur Ibu Rumah Tangga dengan seorang putri yang bersemangat menunjukkan kalau IRT bisa sukses di rumah Menulis dan berbisnis adalah hal menyenangkan dan membawa banyak berkah Menjadi Kontributor EmakPintar.Asia dan menghhias blog menjadi favorit baru penghilang lelah dan berbagi berkah ilmu

5 thoughts on “Masyarakat Tanpa Riba”

  1. Benar banget riba itu akan menjerumuskan kita ke dalam hutang. Menurut cash flow perencanaan keuangan, hutang itu kewajiban kedua setelah Zakat, Infak, dan sedekah yang harus ada dari setiap pendapatan kita. Jadi, janganlah suka berhutang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.